Belitung Timur, Kampong Renggiang Maras Taun, dengan tema Melestarikan budaya dan menjaga kebersamaan, acara yang dilaksanakan di rumah kediaman dukun kampong Agustoni RT.2 Desa Renggiang Kecamatan Simpang Renggiang Beltim Pada Minggu ( 17-5-2026 )
Acara yang dihadiri oleh wakil Bupati, beserta Ibu Maisinun yang juga anggota DPRD Prop.Babel, ketua DPRD Fezzi, dan anggota Dewan Zulkhaidir, Akhirudin, Sardidi, Camat Renggiang, Dan Yonif TP845/KS Simpang Tiga, Kapolsek Gantung, Kades Renggiang, Ketua FKAB Mukti Maharip, lembaga adat Beltim Hapian, Babinsa dan Babhinkantibmas sertanbpara tamu undangan lainnya,
Acara yang diawali oleh Tarian selamat datang oleh gadis-gadis desa renggiang dan hiburan hadra oleh Prajurit Yonif TP 845/KS Simpang Tiga
Kades Renggiang Siskori Aries Nugraha, dalam kesempatan itu mengatakan, kegiatan maras taun ini adalah warisan adat yang memang dari turun temurun, dari temanya ‘ Melestarikan budaya dan menjaga kebersamaan, ini adalah bentuk kita bahwa adat yang harus di lestarikan di kampong ini, salah satunya yang harus terjaga adalah maras taun ini,” Ujar Siskori

Ia menyampaikan, Kami dari Pemerintah Desa sangat mendukung sekali kegiatan adat maras taun ini, bahwa kita sama tahu sekarang ini efisiensi, jadi kita masih bisalah berkontribusi untuk melaksanakan acara maras taun ini,
” dan kami Desa mengapresiasi dan ucapan terima kasih kepada donatur yang telah memfasilitasi acara maras taun ini,” katanya
Lanjutnya, Siskori menambahkan bahwa rangkaian kegiatan acara ini diawali dengan bersih- bersih kampong, ngemping padi, dan di acara puncaknya maras taun dengan ritual dukun kampong dan doa bersama, lanjutnya makan bedulang bersama masyarakat,” jelasnya.
Untuk kelestarian budaya maras taun ini terhadap generasi kedepannya, Siskori menyampaikan, kami mencoba mulai dari anak-anak paud untuk dapat diperkenalkan apa maras taun ini, karna jangan sampai nantinya generasi kedepannya tidak mengenal apa itu maras taun dan juga dalam acara maras taun ini kita mengajak anak-anak anak muda untuk ikut andil dalam kepanitiaan,
” Jadi nilai yang harus kita tanamkan adalah meningkatkan kebersamaan dan tali silahturahmi antar generasi,” pungkas Siskori.

Wakil Bupati Belitung Timur Khairil Anwar menyatakan bahwa kelestarian budaya menjaga kebersamaan suatu judul yang sangat baik, karna kita menjaga ada ini bukan hanya ingin menjaga tapi turut dilestarikan dan dimanfaatkan terus kedepannya,
Momen penting ini untuk kelestarian di kampong, inilah suatu bentuk kebersamaan yang baik dari segala macam, mulai dari perangkat, masyarakat tokoh adat bersatu dalam rangka menjaga kampong,” ujar wakil Bupati Khairil Anwar usai acara maras taun
oleh sebab itu, kata Khairil kami dari Pimpinan Daerah mengapresiasi yang disampaikan oleh panitia, ternyata orang Kampong tidak ada di patok sumbangan sekian orang, ternyata ini di fasilitasi oleh donatur yang ada usaha di Desa Renggiang,
” nah inilah suatu bentuk kepedulian mereka ( Pengusaha-red) terhadap Kampong ini itu ada. Ini juga merupakan bentuk kebersamaan, ini bukan hanya orang Kampong tapi orang yang ada usaha di kampong ini, seperti inilah yang diharapkan masyarakat,” tukasnya

Untuk generasi kedepannya diharapkan pasti ada yang akan meneruskan dan kedukunan ini akan terus terjaga,” tutup Khairil
Dukun Renggiang Agustoni yang di dampingi Ketua Forum Kedukunan Adat Belitung (FKAB) Mukti Maharip menyampaikan maras taun ini sebenarnya suatu adat budaya turun temurun, disamping itu maras taun juga sebagai ajang meningkatkan tali silahturahmi masyarakat,
” Adat ini mungkin adab yang lebih baik dari itu, maka dari itu kita ajak para pemuda untuk lebih mengenal adat dan adab di kegiatan maras taun ini seperti ngemping padi jadi mereka akan tau, inilah suatu kebersamaan, agar adat ngemping padi diteruskan untuk berikutnya,” Ujar Agustoni
” Diharapkan untuk kedepannya akan lebih baik untuk mengenal adat budaya maras taun,” tambahnya.

Saat ditanya kenapa masih muda mau jadi dukun kampong, Ia menjawab jadi dukun tidak ada kata terpaksa karna masih muda, masih muda bukan karena nggak bisa, apapun bentuk yang penting bisa, dan ada kemauan, ada itikat baik dalam hati keikhlasan, bahwa kita tumbuhnya dimana, di Kampong,” jelasnya
Agustoni mengatakan, bahwa masih banyak warisan budaya yang harus kita jaga dan pelihara, aku beritikat karna dibantaran ini mungkin aku yang masih muda,
” bahwa dukun itu sebenarnya punya waktu 24 jam, jadi kalau orang muda banyak extranya, jadi dukun itu tidak bisa nolak kapan diperlukan oleh masyarakat, fisik dan mental memang harus kita persiapkan kapan saja kita diperlukan oleh masyarakat ini,” ungkap Agustoni ( Niza Karyadi )
