JAKARTA — Peran perempuan Indonesia tak lagi sebatas di dalam negeri. Kongres Wanita Indonesia kini menjadi representasi resmi suara perempuan Indonesia di berbagai forum global, mulai dari forum G20 hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Hal itu disampaikan Ketua KOWANI Bidang Luar Negeri dan Ketenagakerjaan, Faradiba, dalam wawancara pada peringatan Hari Kartini di Gedung KOWANI, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Menurut Faradiba, KOWANI memiliki posisi strategis sebagai perwakilan Indonesia dalam jaringan organisasi masyarakat sipil di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hal ini tidak lepas dari status KOWANI sebagai federasi yang menaungi lebih dari 120 organisasi perempuan di seluruh Indonesia.
“KOWANI itu mewakili Indonesia di forum civil society organization di PBB. Karena kita adalah payung organisasi perempuan, maka kita dipercaya menjadi delegasi Indonesia di forum-forum internasional,” ujarnya.
Salah satu forum rutin yang diikuti adalah forum Women 20 (W20), bagian dari engagement group dalam G20 yang membahas isu perempuan secara global. Dalam forum ini, KOWANI secara konsisten menyuarakan berbagai rekomendasi strategis terkait pemberdayaan perempuan, mengikuti tema yang ditentukan oleh negara presidensi.
“Ketika Indonesia menjadi presidensi G20 tahun 2022, seluruh isu prioritas perempuan dipegang oleh KOWANI. Kita leading di situ dan banyak rekomendasi lahir dari yg Indonesia,” jelas Faradiba.
Selain itu, KOWANI juga aktif dalam forum Commission on the Status of Women (CSW), forum tahunan PBB yang mempertemukan pemimpin perempuan dunia—mulai dari kepala negara, menteri, hingga organisasi masyarakat sipil.
Dalam forum tersebut, KOWANI membawa laporan dari akar rumput di Indonesia, mulai dari praktik terbaik (best practices), kisah sukses, hingga berbagai tantangan yang dihadapi perempuan di berbagai sektor seperti pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi UMKM.
“Kami melaporkan apa yang terjadi di tingkat grassroot, dari anggota organisasi dengan berbagai fokus. Itu yang justru menjadi kekuatan Indonesia di mata dunia,” katanya.
Faradiba menegaskan, peran perempuan tidak hanya penting dalam pembangunan nasional, tetapi juga dalam menjaga perdamaian dunia. Menurutnya, perempuan memiliki pendekatan yang inklusif dan mampu menjembatani berbagai kepentingan lintas sektor.
“Perempuan itu memegang kendali perdamaian dunia. Kita bisa masuk ke semua sektor—pendidikan, ekonomi, kesehatan—dan itu semua berkontribusi pada perdamaian,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa isu perempuan tidak biasa dan tidak dibatasi hanya pada satu sektor atau kementerian. Keterlibatan perempuan harus hadir di seluruh lini pembangunan.
“Issue perempuan ada di semua sektor, semua kementerian. Karena itu KOWANI harus hadir di semuanya,” tegasnya.
Menariknya, Faradiba mengungkapkan bahwa dunia internasional justru melihat Indonesia sebagai negara dengan praktik sosial yang patut dipelajari. Dalam salah satu forum di Eropa, ia mengaku mendapat pertanyaan mengapa Indonesia mampu menjaga stabilitas sosial di tengah keberagaman.
“Mereka ingin belajar dari Indonesia. Karena itu saya selalu bilang ke perempuan Indonesia—jangan menunduk di forum internasional. Kita harus angkat kepala, bukan sombong, tapi percaya diri karena dunia membutuhkan Indonesia,” pungkasnya.
Melalui kiprah di berbagai forum global, KOWANI menegaskan bahwa suara perempuan Indonesia kini tidak hanya didengar di dalam negeri, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membentuk arah kebijakan perempuan di tingkat dunia. (ps)
