JAKARTA — Pagi itu, langkah-langkah perempuan dari berbagai penjuru negeri bertemu dalam satu ruang yang sama. Ada semangat yang tak terlihat, namun terasa kuat—semangat yang diwariskan lebih dari seabad lalu oleh Raden Ajeng Kartini.
Di antara mereka, Ibu Maya, istri Wakil Bupati Agam, hadir membawa cerita dari tanah Minangkabau. Bersama rombongan perempuan dari Sumatera Barat, ia menempuh perjalanan bukan sekadar untuk menghadiri acara seremonial Hari Kartini, tetapi untuk merawat makna yang lebih dalam.
“Kami datang sebagai tamu kehormatan, diundang oleh KOWANI. Ini bukan sekadar kehadiran, tapi bagian dari kebersamaan perempuan Indonesia,” tuturnya dengan nada hangat.
Rombongan dari Sumatera Barat yang terdiri dari lima kabupaten dan Kota Padang itu berjumlah sekitar 20 orang. Mereka datang dengan latar belakang berbeda, namun membawa tujuan yang sama: memperkuat peran perempuan di tengah perubahan zaman.
Di balik senyum dan kebersamaan, Ibu Maya menyimpan refleksi yang sederhana namun kuat—bahwa menjadi perempuan hari ini bukan lagi tentang berada di belakang.
“Dulu mungkin perempuan hanya dilihat dari latar belakangnya. Tapi sekarang, kita harus mampu membawa generasi muda perempuan menjadi lebih hebat,” ujarnya.
Baginya, peringatan Hari Kartini bukan hanya mengenang sejarah. Ini adalah pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Bahwa kesempatan yang dinikmati perempuan hari ini adalah hasil dari keberanian masa lalu.
Ia menyadari, apa yang diperjuangkan Kartini telah membuka jalan—memberi ruang bagi perempuan untuk berbicara, berkarya, dan berdiri sejajar sebagai mitra laki-laki.
“Ini kehormatan bagi kita. Karena berkat beliau, perempuan sekarang bisa berkarya, bisa sejajar,” ucapnya pelan, penuh makna.
Namun di balik itu, ada harapan yang terus ia jaga.
Harapan agar perempuan Indonesia tidak berhenti pada capaian hari ini. Agar mereka terus melangkah—lebih kuat, lebih solid, dan saling menguatkan satu sama lain.
“Semoga perempuan Indonesia ke depan lebih maju, lebih menginspirasi, dan tetap bersatu,” katanya.
Di tengah hiruk-pikuk perayaan, pesan itu terasa sederhana. Namun justru di situlah letak kekuatannya.
Bahwa perjuangan besar sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil. Dari perempuan-perempuan yang memilih untuk terus bergerak, meski tanpa sorotan.
Dan dari Agam, api itu tetap menyala.(ps)
