POTRET INDONESIA – Negeri yang indah ini kembali menangis. Pada 26 November 2025, sebagian wilayah Sumatera—khususnya Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—dilanda bencana alam bertubi-tubi. Banjir bandang dan gempa bumi menghantam pemukiman, merusak infrastruktur, dan merenggut nyawa. Duka menyelimuti banyak keluarga, sementara kerugian material tak lagi terhitung jumlahnya.
Di Aceh, sejumlah jalur penghubung antarwilayah putus total. Salah satunya adalah Jembatan Teupin Mane – Bireuen, akses vital yang menjadi penghubung utama antara Bireuen dan Takengon. Putusnya jembatan ini membuat kawasan tersebut terisolasi, menghambat distribusi logistik berupa makanan, pakaian, obat-obatan, dan bantuan darurat lainnya.
Dalam situasi genting itu, UKM PA LEUSER Universitas Syiah Kuala berdiri di garda depan. Mereka membuka posko tanggap bencana, mengkoordinir pengumpulan bantuan dari anggota UKM PA Leuser, masyarakat, dan berbagai organisasi. Proses penggalangan dana dipimpin oleh Sofyan, dengan dukungan penuh dari Herry “Erick” Thaib.
Namun tantangan terbesar bukan hanya mengumpulkan bantuan—melainkan bagaimana mengirimkannya ke daerah yang terputus aksesnya.

Wilayah seperti Takengon hanya bisa dicapai dengan melintasi sungai yang saat ini berarus sangat deras akibat banjir bandang. Dibutuhkan ide cerdas dan solusi kreatif. Dengan semangat untuk menembus keterisolasian, diskusi bersama para senior—salah satunya Anton Kamal—melahirkan sebuah gagasan yang tak hanya berani, tetapi juga penuh kemanusiaan: membuat Sling Baja sebagai jalur distribusi logistik antar-tebing, menyeberangi derasnya arus sungai.
Ide tersebut direalisasikan oleh tim yang dipimpin Ketua UKM PA LEUSER, Consar Siregar, bersama penanggung jawab kegiatan sekaligus salah satu penggagas Sling Baja, Prof. Akhyar.
Mereka tidak bekerja sendiri. Tim pendukung yang terdiri dari:
- Aditya Anwar
- Fiqri Rozi
- Teuku Farhan R.
- Zarul Azhar
- M. Rizky Al’Amin
- Muslim Ruhdi
- Maulana Gogo
- Ahmadun Syawal
Bersama TNI, Polri, dan masyarakat setempat bahu membahu selama dua hari penuh. Di tengah lumpur, hujan, dan medan sulit, mereka bekerja tanpa kenal lelah untuk memasang Sling Baja yang akan menjadi satu-satunya jalur distribusi ke wilayah terisolasi.
Dan akhirnya—dengan semangat, kekompakan, serta tujuan yang sama—Sling Baja itu berdiri kokoh. Logistik pertama langsung meluncur di atasnya, menjadi napas baru bagi warga yang sudah berhari-hari terputus dari dunia luar.



“Anak-anak UKM PA LEUSER memang dikenal kompak dan rasa kekeluargaan mereka sangat kuat… pokoknya luar biasa,” ujar Tyas, alumni Universitas Syiah Kuala.
Sementara itu, Bulin menambahkan, “UKM PA LEUSER adalah rumah kedua kami… rumah yang harus kuat dan kokoh untuk semua anggotanya. Aamiin.”
Di tengah bencana yang merenggut banyak hal, masih ada secercah cahaya: cahaya dari orang-orang yang memilih untuk bergerak, membantu, dan menjadi harapan bagi sesama. (al/shd)
POSKO TANGGAP DARURAT UKM PA LEUSER
Gedung Prof. Madjid Ibrahim
Jl. Syech Abdul Rauf No. 1, Kopelma Darussalam, Kota Banda Aceh
(Gelanggang Mahasiswa Universitas Syiah Kuala)
More info / Konfirmasi Donasi:
Sofyan – 0852 6179 1571
