APA DOSA PANTAS INGGIT GARNASIH ?

Pantas Inggit Garnasih, perempuan tangguh yang begitu tulus dan militan. Bagi yang membaca sejarah pergerakan nasional terutama periode pergerakan dua dekade sebelum kemerdekaan pasti tahu siapa Pantas Inggit Garnasih. Ia bukanlah sekedar istri Bung Karno, melainkan sosok yang berperan besar menopang Bung Karno sehingga bisa memainkan perannya sebagai penggerak gerakan kemerdekaan. Itu tidak bisa dibantah oleh siapapun. Seperti ditulis Seno Gumitra Ajidarma 1984 seorang sastrawan Jabar dan Deni Rachman 2020 dari komunitas Aleut Bandung, Inggit memiliki peran besar menjadi penopang utama Bung Karno. Begitupula jika menyimak kisah yang dituangkan Ramadhan Kh dalam buku Kuantar ke Pintu Gerbang, peran perembuan kelahiran Desa Kamasan Kec Banjaran Kab. Bandung itu luar biasa.

Peran besar Pantas Inggit Garnasih itu sangat bertolak belakang dengan perlakuan dari negara. Sebab hingga hari ini, perempuan yang tidak banyak tuntutan itu tak kunjung mendapat pengakuan sebagai pahlawan nasional. “Belum ada jawaban om” kata Jeny Dianis Putri aktifis GMNI Jabar yang bertugas mengawal pengusulan terakhir 2023 lalu. Sudah tiga kali Masyarakat Sejarahwan Indonesia Jabar bersama Pemda Jawa Barat mengajukan pengusulan masing-masing pada 2009, 2012 dan 2023.

41 tahun silam tepatnya
13 April 1974, pejuang tangguh itu meninggal dunia. Anak dan cucunya saat itu mengajukan permintaan kepada Pemda Jawa Barat agar jenazah dimakamkan di Cigereleng tempat dimana ia dulu menemani Bung Karno melakukan pendidikan bagi warga masayarakat. “Itu satu-satunya permintaan almarhum” ujar Tito Asmarahadi salah satu cucu almarhum.
Pernintaan tsb tidak serta merta dipenuhi. Malahan Pemda Jawa Barat harus meneruskannya ke pusat. Jawaban dari pusat harus ditunggu lama. Malam hari baru dipeoleh informasi, pemerintah pusat dalam hal ini Pangkopkamtib Sudomo tidak mengizinkan Pantas Inggit Garnasih dimakamkan di Cigereleng. Kare itu kami harus mengantar jenazah almarhumah ke TPU Caringin. “Karena sudah malam, rombongan mengantar jenazah beliau dengan menggunakan lampu petromax” ujar Tito sedih saat saya temui beberapa waktu silam di rumahnya di Kompleks Ciborelang Jl. Margajaya Dalam IV Bandung.

Apa dosa Pantas Inggit sehingga ia tak kunjung diakui sebagai pahlawan nasional ? Bahkan pemakamannya pun mengalami kesulitan? Sebuah ironi yang sulit ditemukan jawabannya. Padahal tenaganya, pikirannya terlebih ketulusannya untuk memerdekakan negeri ini tidak bisa dinilai dengan apa pun. Terlalu besar dan karena itu menjadi pertanyaan, kenapa ia diabaikan. Yang lebih menyedihkan lagi masyarakat Jawa Barat tidak bereaksi. Seakan pengabaian terhadap Inggit merupakan hal yang biasa saja. Padahal warga Jawa Barat harusnya berbangga memiliki perempuan sekelas Pantas Inggit Garnasih yang berjasa besar bagi kemerdekaan. Nyatanya tidak ada yang bersoal kecuali hanya dengan menempuh jalur formal seadanya🥲🥲🥲🥲🥲

Sebagai pemerhati yang selalu meluangkan waktu mengunjungi rumah dan makam Pantas Inggit Garnasih setiapkali datang ke Bandung, saya membayangkan di setiap moment tertentu al; hari kelahiran dan meninggalnya akan ada pernyataan menggugah pemerintah pusat untuk menetapkannya sebagai pahlawan nasional. Antara lain dari organisasi2 kemahasiswaan, organisasi perempuan dan ormas2 lainnya. Atau setidaknya dilakukan haul pada hari ini memperingati 41 tahun meninggalnya perempuan yang pernah begadang setiap malam untuk menjahit dan membuat jamu. Siang harinya jahitan dan jamu itu dijualnya. Dari hasil itulah untuk membiayai aktifitas Bung Karno yang hari2nya dihabiskan untuk memperjuangkan kemerdekaan.
Karena tak ada yang membuat acara, maka dini hari ini Minggu 13 April 2025 pk 0p.49 WIB saya menulis catatan ini dalam kesedihan, sebagai haul bagi Pantas Inggit. Semoga beliau tenang mendapat tempat yang baik di alam sana.
Jasamu untuk bangsa ini terlalu besar, sebuah ketidakadilan bahkan kebiadaban bila negara yang kau ikut dirikan ini tidak mengakuimu sebagai pahlawan .

Hari-hari itu,
di saat alam sedang tidur
dan penghuninya terlelap.
Kau justru sedang menguras tenaga,
sendiri, tak ada yang mau berbagi lelahmu.
Bagimu tak ada waktu bersantai,
Siang dan malam sama saja,
Semua menguras tenaga dan pikiran,
demi mimpi besar;
Indonesia merdeka.
Kini pun hari mu sepi.
Di Kamasan tempatmu lahir,
di Ciateul tempatmu mengakhiri pengembaraan,
di Caringin tempat jazadmu diistrahatkan,
tak ada acara apa pun.
Sepih.
Desamu sepi,
Rumahmu sepi,
Makammu sepi.

Sejatinya, kami,
kami penikmat jerihpayamu,
hari ini, tiga belas april dua ribu dua puluh lima,
berkumpul melakukan haul.
Dan sesudahnya, meneriakkan puisi;
apakah dosa Pantas Inggit Garnasih sehingga kamu teramat pelit untuk menyebutnya; pahlawan nasional dari tanah sunda?.
Adakah yang tidak setuju ?,
Yang tidak setuju silahkan angkat tangan,
aku mau menatap wajahmu;
hei……..kau buta sejarah ?
atau jangan-jangan kau seorang di antara pengkhianat bangsa yang kini banyak berkeliaran, mengatasnamakan RAKYAT, bangsa dan negara, padahal sedang memperkaya diri.

Jacobus K. Mayong Padang.

Kalibata, Minggu, tigabelasempatduanoldualima.

mengenanginggit

pahlawanterlupakan

perempuantangguhdarisunda