Al- Mahdi Sosok Ummi Maknawi diatas Bimbingan Allah

Oleh: Diki Candra Purnama*)

Konsep Ummiyyah dalam Sunnatullah Risalah. Secara bahasa berasal dari kata umm, yaitu “ibu”, sehingga ummī berarti orang yang tetap seperti keadaan saat dilahirkan ibunya — belum belajar membaca, menulis, atau mengambil ilmu dari manusia.

Maka ummiyyah maknawiyyah berarti
Bersih dari pengaruh ideologi, ilmu manusia, atau sistem dunia, dan mendapat bimbingan langsung dari Allah.

Secara Prinsip Qur’ani yang universal Allah berfirman: QS. Asy-Syūrā [42]: 52;
“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (wahyu) dari perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apa itu Kitab dan apa itu iman. Tetapi Kami jadikan ia sebagai cahaya yang dengannya Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.”

Tafsir Fakhruddin ar-Rāzī: Ayat ini menunjukkan sunnatullah bahwa seseorang yang ditunjuk Allah membawa petunjuk akan mendapat ilmu langsung (nūr ilāhī) tanpa melalui perantara manusia.
Sehingga semua yang dipilih Allah sebagai hujjah-Nya di bumi — baik Nabi, Rasul, maupun Mujaddid dan pemimpin akhir zaman — memiliki jalur wahbiy (pemberian langsung), bukan kasbiy (hasil belajar).

Sementara itu kita ketahui bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah ummī /tidak belajar sebelumnya.
Seperti disebutkan QS. al-‘Ankabūt [29]: 48; “Dan engkau (wahai Muhammad) tidak pernah membaca suatu kitab sebelumnya dan tidak (pula) menulisnya dengan tangan kananmu; seandainya demikian, tentulah orang-orang yang batil akan ragu.”

Ibn Katsir, al-Ṭabarī, al-Qurṭubī menafsirkan :
Ayat ini bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah belajar dari kitab mana pun sebelum diwahyukan kepadanya al-Qur’an. Sehingga Hikmahnya adalah agar tidak ada yang menuduh bahwa beliau hanya menyalin dari kitab sebelumnya.

Ummī di sini bukan cela, tapi mukjizat — bahwa beliau membawa wahyu yang paling sempurna tanpa belajar dari manusia.

QS. al-A‘rāf [7]: 157–158; “(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummī, yang mereka dapati tertulis (berita tentangnya) di Taurat dan Injil yang ada pada mereka.”

Tafsir al-Rāzī dan al-Qurṭubī: Kata al-Ummī berarti “yang tidak menulis dan tidak membaca”, seperti kondisi kebanyakan orang Arab waktu itu. Namun di sisi lain, maknanya juga “yang masih murni”, belum terkontaminasi oleh ajaran-ajaran buatan manusia.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Kita adalah umat yang ummī, tidak menulis dan tidak menghitung (berdasar sistem rumit).” — (HR. al-Bukhārī no. 1913, Muslim no. 1080).

Dalam Penjelasan ulama bahwa hadits ini bukan merendahkan umat Islam, tapi menegaskan kesederhanaan dan keaslian wahyu — Islam tidak bergantung pada kecanggihan ilmu duniawi, tetapi pada petunjuk wahyu langsung dari Allah.

Apakah semua nabi “ummi” atau tidak berilmu sebelumnya? Secara mayoritas ulama tafsir dan aqidah, tidak semua nabi “ummi” secara literal (tidak bisa membaca/menulis), tetapi semua nabi “ummi” secara maknawi, yaitu: “Tidak mendapatkan ilmu risalah dari manusia sebelumnya.”

Seperti disebutkan dalam QS. asy- Syūrā [42]: 52 “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (wahyu) dari perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apa itu Kitab dan apa itu iman, tetapi Kami jadikan ia sebagai cahaya…”

Menurut Imam Fakhruddin al-Rāzī dan al-Ṭabarī, ayat ini tidak hanya untuk Nabi Muhammad ﷺ, tapi menggambarkan sunnatullah risalah.
Para nabi sebelum menerima wahyu tidak mengenal detail syariat langit, bahkan kadang tidak tahu bahwa dirinya akan menjadi nabi.

Misalnya, Nabi Musa As sebelum diangkat menjadi nabi, Musa hanya dikenal sebagai pangeran istana Firaun dan penggembala kambing di Madyan, bukan ulama Taurat.
QS. Ṭāhā [20]: 9–14;
Kisah panggilan di lembah Thuwa: Allah memanggil Musa langsung, lalu memberinya mukjizat dan risalah setelah masa pengembaraan dan tanpa guru manusia.

Ini menunjukkan pengangkatan langsung oleh Allah, bukan hasil pendidikan dari manusia.

Nabi Ibrahim As.
Beliau hidup di tengah penyembah berhala, bahkan ayahnya sendiri pembuat patung.
Beliau sampai pada tauhid melalui ilham dan fitrah, bukan karena belajar dari kitab atau guru.
QS. al-An‘ām [6]: 76–79; “Tatkala malam telah gelap, ia melihat bintang… kemudian bulan kemudian matahari lalu berkata: sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi.” Ini menggambarkan proses ilham fitri, bukan hasil pelajaran formal.

Nabi Isa As. lebih tegas lagi: Beliau berbicara dalam buaian, tanpa guru, tanpa belajar QS. Maryam [19]: 30; “Dia berkata: Sesungguhnya aku adalah hamba Allah; Dia memberiku kitab dan menjadikanku nabi.”

Nabi Isa adalah contoh ummi sejak lahir, tetapi diberi ilmu langsung oleh Allah.

Nabi Nuh As., Hud As., Shalih, dan lain- lainnya tidak ada riwayat bahwa mereka mempelajari kitab sebelumnya; bahkan mereka diutus kepada kaum yang tidak memiliki tradisi kitab suci. Maka jelas bahwa risalah mereka murni dari wahyu, bukan dari pendidikan sebelumnya. Disini termasuk Al-Mahdi dibimbing Langsung oleh Allah. Sesuai dengan Hadits Sahih: “Allah akan memperbaikinya (al-Mahdi) dalam satu malam.”
— HR. Ibn Mājah no. 4085; Ahmad (1/84); sanad hasan menurut al-Albānī.

• Imam Ibn Katsir (al-Bidāyah wa an-Nihāyah, 19/27) menjelaskan “Allah memberinya taufik, hikmah, dan ilham dalam satu malam setelah sebelumnya bukan ahli politik, bukan ulama besar, bukan orang yang menonjol.”

• Ibn al-Qayyim menambahkan: “Allah akan membukakan pintu ilmu dan hikmah di hatinya tanpa guru dan tanpa belajar panjang.”

Ini adalah definisi sempurna dari ummiyyah maknawiyyah:
Tidak melalui lembaga, tapi langsung disucikan dan diajari oleh Allah.

Hadits lain: Al-Mahdi mengikuti sunnah langsung Rasulullah ﷺ “Al-Mahdi itu dari keturunanku, ia akan beramal dengan sunnahku, dan Allah akan menurunkan hujan karenanya.”
— (HR. al-Ḥākim, al-Mustadrak, 4/557; sanad sahih). ( Dwi).

5 Oktober 2025

Penulis. Diki Candra Purnama, Ketua MAJELIS GAZA