SENAYAN – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas dan ini sudah terjadi dan terasa dampaknya di Indonesia. Tren kenaikan suhu yang signifikan, seiring meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem yang memicu bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah.
BMKG mencatat laporan global terbaru, anomali suhu dunia pada 2024 telah melampaui ambang batas 1,5 derajat celsius atau lebih dari 1,55 derajat celsius dibandingkan periode pra -industri. “Angka tersebut menjadikan 2024 sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah pencatatan iklim global,” demikian dikatakan Pelaksana Tugas Deputy Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani pada diskusi Dialektika Demokrasi bertema “Cuaca Eksrim Sinergi dan Kolaborasi Atasi Bencana” yang digelar oleh Koordinatoriat Wartawan Parlemen bekersama Biro Pemberitaan DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Ia menambahkan, bahwa indikator perubahan iklim itu harus berbasis data. Contoh, data suhu membuktikan secara jelas bahwa bumi semakin panas dan sudah melampaui ambang batas yang disepakati secara global.
“Tren pemanasan global tercermin di Indonesia. Data pengamatan BMKG yang mencakup hampir satu abad, suhu rata-rata nasional menunjukkan kecenderungan terus meningkat,”jelasnya.
Andri menambahkan, tata-rata suhu Indonesia pada 2024 mencapai 27,52 derajat Celsius, tertinggi sepanjang sejarah pengamatan. “Pola grafik sejak 1984 hingga 2024 menunjukkan tren yang semakin memerah, artinya semakin panas,”ucapnya.
Kenaikan suhu tersebut, lanjut Andri berdampak langsung pada meningkatnya intensitas dan frekuensi cuaca ekstrem, yang menjadi pemicu utama bencana hidrometeorologi, baik basah maupun kering.
Sumber Bencana dari Cuaca Ekstrem
Berdasarkan data BMKG, bahwa bencana hidrometeorologi basah meliputi banjir biasa, banjir bandang dan longsor. Sementara bencana hidrometeorologi kering mencakup kekeringan berkepanjangan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 2025 menunjukkan, lebih dari 90 persen dari sekitar 2.590 bencana yang terjadi di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi.
“Sebarannya memang terkonsentrasi di Sumatera dan Jawa, sebagian Kalimantan, serta Sulawesi. Wilayah-wilayah ini secara historis memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi,” papar Andri.
El Nino–La Nina Picu Anomali Musim
Selain tren pemanasan jangka panjang, variasi iklim tahunan seperti El Nino dan La Nina turut memperkuat dampak cuaca ekstrem. El Nino cenderung memicu kemarau lebih panjang dan intens. Sedangkan La Nina menyebabkan curah hujan meningkat hingga 30–50 persen, termasuk saat musim kemarau.
“Anomali iklim ini juga bisa menggeser awal dan akhir musim hujan. Bisa datang lebih cepat, lebih lambat, atau berakhir lebih panjang,”pungkas Andri seraya menyebutkan bahwa BMKG terus mendorong pentingnya penguatan sistem peringatan dini multi-bahaya. Hal ini merujuk pada inisiatif Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bertajuk Early Warning for All, yang menekankan bahwa peringatan dini dapat menyelamatkan nyawa dan mengurangi kerugian ekonomi. (yo)
